hal pertama: UN majuuuu
terkutuklah para pemerintah yang seenaknya nentuin hari
hal kedua: teringat koko cipit....
huaaaaa gw jadi mo ke FKUI liat2 trus nyari2 koko cipit.....
trus mo liat2 UI salemba....
hal ketiga: makin pengen dan ga pengen ke IPB
ga pengen: takut rasisnya sama kecewa sama mereka hari ini (er..., gpp juga sih, asal ketemu temen sama dosennya enak)trus aernya jelek dan lingkungannya rada terpencil
pengen: lingkungannya enakkkk, ijo2 gt
puun dimana2, kerennnn, gw da kebayang bakal bawa sepeda ungu gw ke sono
trus uda kebayang hari minggu sepedaan di sono
huhuhuhuhu.....
yah..., kalo mo ditotal...
niat gw masuk sono blom ilang
hahahahahahahahahaha
Karena putih adalah warna yang dapat menyamarkan hitam, bahkan hati tergelap sekalipun
Sabtu, 14 November 2009
Minggu, 25 Oktober 2009
cewe ato cowo
Ini beneran!
Entah mengapa setiap kali gw ngeliat cewe2 gw merasa diri gw bukan seorang cewe!
Astaga-astaga...
Tiap kali gw melihat seorang cewe, gw meresa sangat kurang dari mereka.
Kebanyakan dari mereka punya pikiran yang polos.
Kayak menganggap semua yang ada di dunia ini baik adanya.
Mereka juga kayaknya tulus..., banget.
Feminin.
Manis.
Lembut.
Rajin, rapih.
Mikirin penampilan (banget)
Bener-bener cewe.
Kalo lagi nyebelin juga cewe banget.
Ngomel, ngambek, trus juga gak kasar.
Sedangkan gw?
Gw terlalu judes.
Terlalu kasar.
Kalo ngomong ga make mikir.
Make sih, tapi pikiran gw dipake untuk: gimana caranya agar gw bisa ngomong semenyakitkan mungkin, sejudes mungkin.
Gw jg terlalu curigaan.
Dan ga berperasaan.
Nangis buat hal yang ngga cewe banget.
Jadi....
Kayaknya gw sama sekali bukan cewe tulen
Entah mengapa setiap kali gw ngeliat cewe2 gw merasa diri gw bukan seorang cewe!
Astaga-astaga...
Tiap kali gw melihat seorang cewe, gw meresa sangat kurang dari mereka.
Kebanyakan dari mereka punya pikiran yang polos.
Kayak menganggap semua yang ada di dunia ini baik adanya.
Mereka juga kayaknya tulus..., banget.
Feminin.
Manis.
Lembut.
Rajin, rapih.
Mikirin penampilan (banget)
Bener-bener cewe.
Kalo lagi nyebelin juga cewe banget.
Ngomel, ngambek, trus juga gak kasar.
Sedangkan gw?
Gw terlalu judes.
Terlalu kasar.
Kalo ngomong ga make mikir.
Make sih, tapi pikiran gw dipake untuk: gimana caranya agar gw bisa ngomong semenyakitkan mungkin, sejudes mungkin.
Gw jg terlalu curigaan.
Dan ga berperasaan.
Nangis buat hal yang ngga cewe banget.
Jadi....
Kayaknya gw sama sekali bukan cewe tulen
Selasa, 29 September 2009
hancur....
yang dilakukan hari ini dan kemaren:
kemaren:
siang: telat makan, jem 6 bru selese makan siang
malem: makan jem 9-an, jam 10 masih makan sayur
tidur jem setenga 11
hari ini:
malem: kebangun jem 12 lewat
trus kebangun lagi jem 1-an
subuh: bangun jem 3.45-an
jam 4-an kelaparan, makan coklat tobleron yang dibuka sejak agustus sama nori yang uda rada lembek
laporan jem 8-an: diare.... TT_TT
INI KENAPA BANGET COBA?!
jem 8-setenga sembilan: minum norit 6 biji (telen tuh norit! =3=)
setenga sepuluhan: sakit perut ilang, mendingan
siang: boker2 lagi
sore: mendingan lagi (uda lupa pernah sakit)
malem: abis makan malem, grucuk2, sakit lagi, boker 2 kali
AHHHHHH!!!!!!!!!!! (teriak prustasi)
sepertinya perut gw sendiri ga bisa dipercaya T_T
kemaren:
siang: telat makan, jem 6 bru selese makan siang
malem: makan jem 9-an, jam 10 masih makan sayur
tidur jem setenga 11
hari ini:
malem: kebangun jem 12 lewat
trus kebangun lagi jem 1-an
subuh: bangun jem 3.45-an
jam 4-an kelaparan, makan coklat tobleron yang dibuka sejak agustus sama nori yang uda rada lembek
laporan jem 8-an: diare.... TT_TT
INI KENAPA BANGET COBA?!
jem 8-setenga sembilan: minum norit 6 biji (telen tuh norit! =3=)
setenga sepuluhan: sakit perut ilang, mendingan
siang: boker2 lagi
sore: mendingan lagi (uda lupa pernah sakit)
malem: abis makan malem, grucuk2, sakit lagi, boker 2 kali
AHHHHHH!!!!!!!!!!! (teriak prustasi)
sepertinya perut gw sendiri ga bisa dipercaya T_T
Rabu, 16 September 2009
Masa Lalu
Masa lalu
Seorang gadis mungil duduk di ambang pintu. Gaunnya putih bersih. Rambutnya lurus lembut bagai satin hitam. Setiap hari, gadis itu duduk di sana. Menatap langit sambil menyenandungkan lagu sedih. Sebuah lagu dengan kata-kata yang hanya dimengerti olehnya. Terkadang, kau dapat melihat matanya menerawang.
Hari ke hari, langit melihatnya. Langit penasaran.
"Hai, gadis mungil, apa yang kau lakukan di situ?" tanya langit.
"Aku menunggu," jawab gadis itu sambil tersenyum. Mata itu masih tetap menerawang.
"Menunggu?" balas langit, "Menunggu apa?"
"Hujan...,"
Dan gadis itu kembali ke dalam pikirannya. Memikirkan sesuatu yang tidak diketahui siapapun.
Hari ke hari, langit masih melihatnya.
Menunggu. Ya, pasti gadis itu menunggu hujan, pikir langit.
Jadi, langit memeras awan-awannya dan menurunkan hujan.
Rintik-rintik kecil pun jatuh ke bumi. Menyapa gadis mungil yang menunggu.
Menyadari hal itu, mata gadis mungil kembali ke saat kini. Kaki-kakinya mulai berlarian, kedua tangannya terbuka ke atas. Menyambut hujan.
Ia menari, berlarian, tertawa di tengah hujan. Seakan-akan kehidupan kembali kepadanya. Penuh energi dan vitalitas.
Langit yang melihat itu tersenyum. Geli melhat tingkah gadis mungil.
Ia berkata, "Sudah, sudah, jangan terlalu lama bermain dengan hujan. Nanti kau jatuh sakit."
"Hm...? Tapi ini hujan pertama sejak aku menunggu. Aku ingin berada di sini lebih lama lagi...," gadis mungil menengadah ke atas. Rautnya merengut tidak setuju.
"Nanti akan ku bawakan kau hujan yang lain. Sekarang kau harus masuk!" langit memperingatkan dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Benar, ya?"
"Ya."
Dengan janji itu, sang gadis masuk ke dalam rumahnya. Hilang dari pandangan langit.
Menyadari gadis mungil telah hilang untuk sementara waktu, mau tidak mau langit kecewa. Jika hujan tidak datang, mungkin gadis itu masih berada dalam pandangannya, masih menunggu. Tetapi, langit tidak kuasa untuk tidak menurunkan hujan. Ia tidak ingin gadis itu menunggu...
Keesokan harinya, gadis itu kembali menunggu.
Kali ini ia menunggu, lalu menuntut.
"Mana hujan yang kau janjikan?"
"Nanti. Aku tidak bisa mengeluarkan hujan saat ini. Awan-awanku kering."
"Lalu, kapan aku bisa melihat hujan?"
"Jika aku sudah mendapatkan banyak air dari bumi, baru aku bisa menurunkan hujan."
"Air dari bumi? Apa bumi memberimu minum?"
"Bisa dikatakan demikian. Bumi mengirimkan air-air padaku lewat angin."
Dari sana, pertemanan antara gadis mungil dan langit dimulai.
Mereka saling bertukar cerita.
Langit menceritakan tentang teman-temannya.
Gadis mungil tentang kehidupannya.
Sesekali, untuk menyenangkan hati sang gadis, langit memberikan hujan yang menjalin hubungan diantara mereka. Dan, setiap saat langit melakukan hal itu, gadis mungil akan berlari keluar dari ambang pintu. Menari menyambut hujan.
Berbulan-bulan mereka melakukan hal itu.
Sang gadis untuk hujan yang dinantikannya.
Dan bagi langit agar dapat melihat gadis mungil.
Sampai suatu hari, langit menanyakan sebuah pertanyaan yang selama ini mengusiknya.
"Hei, mengapa kamu sangat ingin melihat hujan?"
"Melihat?"
"Ya, kau berkata kau menunggu di sana untuk hujan."
"Ah..., aku memang menunggu hujan... Tetapi bukan untuk melihat..." kata-kata gadis itu terputus. Jarang-jarang hal itu terjadi. Langit pun makin penasaran.
"Lalu, untuk apa?"
"Aku ingin merasakan. Setiap tetesan hujan. Setiap airnya yang jatuh di kulitku, suara rintik yang masuk ke telingaku, bau tanah yang menyapu hidungku. Semuanya itu mendatangkan kembali ingatan tentang kekasihku." gadis itu tersenyum.
"Kekasih?"
"Ya, kekasih."
Dan pembicaraan pun terhenti begitu gadis mungil kembali masuk ke dalam alam pikirannya sendiri.
Langit mendengar hal itu.
Dan langit merasakannya.
Sebentuk sakit yang muncul entah di mana.
Mengoyak-ngoyak dirinya dari dalam.
Layaknya petir mengusik awan-awan.
Hari itu hujan turun lebih deras dari biasanya.
Gadis mungil tahu itu.
Ada sesuatu yang berbeda pada hujan kali ini.
Hujan itu deras, menusuk-nusuk kulitnya. Dan mengandung sebuah kesedihan.
Seluruh kebahagiannya akan hujan tiba-tiba tersusupi oleh sebentuk kesedihan. Menguatkan kenangan-kenangan kabur yang ingin dikubur oleh gadis kecil.
Kekasihnya.
Kekasih yang meninggalkannya.
Kekasih yang hatinya menetap pada gadis mungil, tetapi kakinya tetap berjalan mencari dunia. Mencari hutan dan gunung. Haus akan rasa dunia.
Ya, hari itu hujan juga turun dengan derasnya.
Menusuk hati dan otak gadis mungil.
Meninggalkan pening yang dibawanya hingga tidur malam.
Perlahan, bulir-bulir air mata mengalir keluar dari mata cokelatnya. Tidak kentara dengan hujan yang memukul-mukul pipi.
Gadis mungil menangis.
Untuk apa?
Untuk kenangan buruk yang kembali timbul itukah?
Gelengan kecil otomatis dilakukannya.
Tidak. Ia tahu itu.
Ini bukan mengenai kekasihnya.
Ini mengenai langit, yang entah bagaimana dirasakannya sedang bersedih.
Ini mengenai langit, yang tiba-tiba terasa begitu jauh. Begitu sulit dijangkau.
Langit yang ketidakhadirannya menginggalkan lubang di hati gadis mungil.
Tersentak, gadis itu ketakutan.
Ia berteriak memanggil langit.
Berputar-putar dalam hujan mencari pribadi yang tertutup awan kelam itu.
Takut langit meninggalkannya.
Takut seseorang lain yang dicintainya juga pergi dari kehidupannya.
Tetapi langit telah pergi.
Ia menutup dirinya rapat-rapat dalam awan, matahari, bulan, dan bintang.
Tidak menoleh kepada gadis mungil.
Tidak ingin merasa keinginan memiliki pada hal yang tak bisa diraihnya.
***
Sore itu secercah warna oranye menghiasi keheningan langit.
Gadis mungil itu masih di sana, di ambang pintu dengan gaun putihnya.
Tetapi, jika ada yang menanyakan apa yang ditunggunya, ia akan menjawab:
“Aku menunggu langit menyapaku.”
Seorang gadis mungil duduk di ambang pintu. Gaunnya putih bersih. Rambutnya lurus lembut bagai satin hitam. Setiap hari, gadis itu duduk di sana. Menatap langit sambil menyenandungkan lagu sedih. Sebuah lagu dengan kata-kata yang hanya dimengerti olehnya. Terkadang, kau dapat melihat matanya menerawang.
Hari ke hari, langit melihatnya. Langit penasaran.
"Hai, gadis mungil, apa yang kau lakukan di situ?" tanya langit.
"Aku menunggu," jawab gadis itu sambil tersenyum. Mata itu masih tetap menerawang.
"Menunggu?" balas langit, "Menunggu apa?"
"Hujan...,"
Dan gadis itu kembali ke dalam pikirannya. Memikirkan sesuatu yang tidak diketahui siapapun.
Hari ke hari, langit masih melihatnya.
Menunggu. Ya, pasti gadis itu menunggu hujan, pikir langit.
Jadi, langit memeras awan-awannya dan menurunkan hujan.
Rintik-rintik kecil pun jatuh ke bumi. Menyapa gadis mungil yang menunggu.
Menyadari hal itu, mata gadis mungil kembali ke saat kini. Kaki-kakinya mulai berlarian, kedua tangannya terbuka ke atas. Menyambut hujan.
Ia menari, berlarian, tertawa di tengah hujan. Seakan-akan kehidupan kembali kepadanya. Penuh energi dan vitalitas.
Langit yang melihat itu tersenyum. Geli melhat tingkah gadis mungil.
Ia berkata, "Sudah, sudah, jangan terlalu lama bermain dengan hujan. Nanti kau jatuh sakit."
"Hm...? Tapi ini hujan pertama sejak aku menunggu. Aku ingin berada di sini lebih lama lagi...," gadis mungil menengadah ke atas. Rautnya merengut tidak setuju.
"Nanti akan ku bawakan kau hujan yang lain. Sekarang kau harus masuk!" langit memperingatkan dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Benar, ya?"
"Ya."
Dengan janji itu, sang gadis masuk ke dalam rumahnya. Hilang dari pandangan langit.
Menyadari gadis mungil telah hilang untuk sementara waktu, mau tidak mau langit kecewa. Jika hujan tidak datang, mungkin gadis itu masih berada dalam pandangannya, masih menunggu. Tetapi, langit tidak kuasa untuk tidak menurunkan hujan. Ia tidak ingin gadis itu menunggu...
Keesokan harinya, gadis itu kembali menunggu.
Kali ini ia menunggu, lalu menuntut.
"Mana hujan yang kau janjikan?"
"Nanti. Aku tidak bisa mengeluarkan hujan saat ini. Awan-awanku kering."
"Lalu, kapan aku bisa melihat hujan?"
"Jika aku sudah mendapatkan banyak air dari bumi, baru aku bisa menurunkan hujan."
"Air dari bumi? Apa bumi memberimu minum?"
"Bisa dikatakan demikian. Bumi mengirimkan air-air padaku lewat angin."
Dari sana, pertemanan antara gadis mungil dan langit dimulai.
Mereka saling bertukar cerita.
Langit menceritakan tentang teman-temannya.
Gadis mungil tentang kehidupannya.
Sesekali, untuk menyenangkan hati sang gadis, langit memberikan hujan yang menjalin hubungan diantara mereka. Dan, setiap saat langit melakukan hal itu, gadis mungil akan berlari keluar dari ambang pintu. Menari menyambut hujan.
Berbulan-bulan mereka melakukan hal itu.
Sang gadis untuk hujan yang dinantikannya.
Dan bagi langit agar dapat melihat gadis mungil.
Sampai suatu hari, langit menanyakan sebuah pertanyaan yang selama ini mengusiknya.
"Hei, mengapa kamu sangat ingin melihat hujan?"
"Melihat?"
"Ya, kau berkata kau menunggu di sana untuk hujan."
"Ah..., aku memang menunggu hujan... Tetapi bukan untuk melihat..." kata-kata gadis itu terputus. Jarang-jarang hal itu terjadi. Langit pun makin penasaran.
"Lalu, untuk apa?"
"Aku ingin merasakan. Setiap tetesan hujan. Setiap airnya yang jatuh di kulitku, suara rintik yang masuk ke telingaku, bau tanah yang menyapu hidungku. Semuanya itu mendatangkan kembali ingatan tentang kekasihku." gadis itu tersenyum.
"Kekasih?"
"Ya, kekasih."
Dan pembicaraan pun terhenti begitu gadis mungil kembali masuk ke dalam alam pikirannya sendiri.
Langit mendengar hal itu.
Dan langit merasakannya.
Sebentuk sakit yang muncul entah di mana.
Mengoyak-ngoyak dirinya dari dalam.
Layaknya petir mengusik awan-awan.
Hari itu hujan turun lebih deras dari biasanya.
Gadis mungil tahu itu.
Ada sesuatu yang berbeda pada hujan kali ini.
Hujan itu deras, menusuk-nusuk kulitnya. Dan mengandung sebuah kesedihan.
Seluruh kebahagiannya akan hujan tiba-tiba tersusupi oleh sebentuk kesedihan. Menguatkan kenangan-kenangan kabur yang ingin dikubur oleh gadis kecil.
Kekasihnya.
Kekasih yang meninggalkannya.
Kekasih yang hatinya menetap pada gadis mungil, tetapi kakinya tetap berjalan mencari dunia. Mencari hutan dan gunung. Haus akan rasa dunia.
Ya, hari itu hujan juga turun dengan derasnya.
Menusuk hati dan otak gadis mungil.
Meninggalkan pening yang dibawanya hingga tidur malam.
Perlahan, bulir-bulir air mata mengalir keluar dari mata cokelatnya. Tidak kentara dengan hujan yang memukul-mukul pipi.
Gadis mungil menangis.
Untuk apa?
Untuk kenangan buruk yang kembali timbul itukah?
Gelengan kecil otomatis dilakukannya.
Tidak. Ia tahu itu.
Ini bukan mengenai kekasihnya.
Ini mengenai langit, yang entah bagaimana dirasakannya sedang bersedih.
Ini mengenai langit, yang tiba-tiba terasa begitu jauh. Begitu sulit dijangkau.
Langit yang ketidakhadirannya menginggalkan lubang di hati gadis mungil.
Tersentak, gadis itu ketakutan.
Ia berteriak memanggil langit.
Berputar-putar dalam hujan mencari pribadi yang tertutup awan kelam itu.
Takut langit meninggalkannya.
Takut seseorang lain yang dicintainya juga pergi dari kehidupannya.
Tetapi langit telah pergi.
Ia menutup dirinya rapat-rapat dalam awan, matahari, bulan, dan bintang.
Tidak menoleh kepada gadis mungil.
Tidak ingin merasa keinginan memiliki pada hal yang tak bisa diraihnya.
***
Sore itu secercah warna oranye menghiasi keheningan langit.
Gadis mungil itu masih di sana, di ambang pintu dengan gaun putihnya.
Tetapi, jika ada yang menanyakan apa yang ditunggunya, ia akan menjawab:
“Aku menunggu langit menyapaku.”
Sabtu, 12 September 2009
Rabu, 19 Agustus 2009
happy...
keadaan yang sekarang udah bagus~~~
semua udah tertata
ga ada yang perlu dipikirin lagi
bodobodobodo
YEAH!
gw harus bangkit
seneng2 buat diri sendiri
toh waktu ga bisa diulang
hidup cuman sekali
ya, ngga?
:)
semua udah tertata
ga ada yang perlu dipikirin lagi
bodobodobodo
YEAH!
gw harus bangkit
seneng2 buat diri sendiri
toh waktu ga bisa diulang
hidup cuman sekali
ya, ngga?
:)
Rabu, 05 Agustus 2009
Selasa, 04 Agustus 2009
Mr. Greenie
there is a thing
with a different color
pink, blue, purple, green, maybe yellow and brown too
it's thin and light
very light
even you can't really feel it in your hand
but
there is always 'something'
this thing is very strong
powerful
effects your live very much
your feeling, your emotion, your mind, heart
everything!
mostly everything!
even, today i cried in school's bathroom because of this thing
nope
you can't eat this thing
you can't drink it
for some situation, it's useless
but, still, it's very powerful
Money it's almost everything! I don't know if my fam can stand without it
all of you will certainly run for it
if you say that this thing is nothing, I won't believe it
you lie We just use it, but we don't make it! How about my education? Chandra's? Can I get a job without going to university? There is a big doubt about it Hahaha...
with a different color
pink, blue, purple, green, maybe yellow and brown too
it's thin and light
very light
even you can't really feel it in your hand
but
there is always 'something'
this thing is very strong
powerful
effects your live very much
your feeling, your emotion, your mind, heart
everything!
mostly everything!
even, today i cried in school's bathroom because of this thing
nope
you can't eat this thing
you can't drink it
for some situation, it's useless
but, still, it's very powerful
Money it's almost everything! I don't know if my fam can stand without it
all of you will certainly run for it
if you say that this thing is nothing, I won't believe it
you lie We just use it, but we don't make it! How about my education? Chandra's? Can I get a job without going to university? There is a big doubt about it Hahaha...
Jumat, 31 Juli 2009
Sakit....
Bener2 sakit.
Ga pura2.
hati gw tertambat, entah, ga mau menetap, tetapi ga sanggup untuk pergi
secara fisik gw juga kekurangan, sebuah pegangan, yang selama ini tetap, mulai lepas, dan sekarang, kayaknya bener2 akan pergi
jalan juga ga punya, jalan gw rusak berantakan, ga berarah, gw tau mau ke mana, tetapi gw ga punya jalannya, karena 'fisik' gw, yeah
belum lagi gw beneran sakit membaca beberapa fakta, fakta2 tentang gw yang udah gw tau, tetapi entah mengapa menjadi lebih jelas dan lantang setelah ditorehkan oleh orang lain
dari yang paling ringan, sampai berat, intinya gw sakit.
sakit otak
sakit hati
sakit pikiran
sakit fisik
sakit sakit sakit
mungkin obatnya terlalu mahal
terlalu sayang untuk diberikan pada gw sekarang ini
mungkin Tuhan mau biar gw berusaha, tumbuh di saat2 gw sakit
kayak keramik yang di bakar dengan suhu tinggi (gila! BBF banget! Hahaha)
FIGHTING! FIGHTING! DO YOUR BEST!
Bener2 sakit.
Ga pura2.
hati gw tertambat, entah, ga mau menetap, tetapi ga sanggup untuk pergi
secara fisik gw juga kekurangan, sebuah pegangan, yang selama ini tetap, mulai lepas, dan sekarang, kayaknya bener2 akan pergi
jalan juga ga punya, jalan gw rusak berantakan, ga berarah, gw tau mau ke mana, tetapi gw ga punya jalannya, karena 'fisik' gw, yeah
belum lagi gw beneran sakit membaca beberapa fakta, fakta2 tentang gw yang udah gw tau, tetapi entah mengapa menjadi lebih jelas dan lantang setelah ditorehkan oleh orang lain
dari yang paling ringan, sampai berat, intinya gw sakit.
sakit otak
sakit hati
sakit pikiran
sakit fisik
sakit sakit sakit
mungkin obatnya terlalu mahal
terlalu sayang untuk diberikan pada gw sekarang ini
mungkin Tuhan mau biar gw berusaha, tumbuh di saat2 gw sakit
kayak keramik yang di bakar dengan suhu tinggi (gila! BBF banget! Hahaha)
FIGHTING! FIGHTING! DO YOUR BEST!
Rabu, 29 Juli 2009
untitled
sambil nunggu gaby kemaren, gw bikin ini
Betapa enaknya jadi anak kecil!
Gila!
Enak bgt!
Liat!
Dengan HANYA tangisan dan penyiksaan mereka dapat mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ok! Sebelum itu mari, kita para kakak, merefleksikan diri. Apa kerugian menjadi seorang adik? Tidak mendapatkan kesempatan yang didapatkan seorang kakak.
Ok, lalu? Apakah itu wajar?
Wajar.
Kenapa? Karena mereka masih kecil. Kecil, muda. Belum pantas untuk semua hal yg ada.
Lalu? Sebagai balasannya mereka, seperti yang aku sebutkan tadi, dapat mendapatkan apa yg mereka inginkan dengan tangisan, rengek.
Hah! Itulah anak kecil.
blahblahblah, yang ini gak jelas.
tapi..., tau lah siapa subjeknya Karel
He get the charisma to capture my eyes.
He have the right eyes to keep my sign on him.
Even, he already catch my heart, so that, although my heart already flies away, it always land to him.
Again, and again, and again
Betapa enaknya jadi anak kecil!
Gila!
Enak bgt!
Liat!
Dengan HANYA tangisan dan penyiksaan mereka dapat mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ok! Sebelum itu mari, kita para kakak, merefleksikan diri. Apa kerugian menjadi seorang adik? Tidak mendapatkan kesempatan yang didapatkan seorang kakak.
Ok, lalu? Apakah itu wajar?
Wajar.
Kenapa? Karena mereka masih kecil. Kecil, muda. Belum pantas untuk semua hal yg ada.
Lalu? Sebagai balasannya mereka, seperti yang aku sebutkan tadi, dapat mendapatkan apa yg mereka inginkan dengan tangisan, rengek.
Hah! Itulah anak kecil.
blahblahblah, yang ini gak jelas.
tapi..., tau lah siapa subjeknya Karel
He get the charisma to capture my eyes.
He have the right eyes to keep my sign on him.
Even, he already catch my heart, so that, although my heart already flies away, it always land to him.
Again, and again, and again
Senin, 27 Juli 2009
joker (from 24 july 2009)
manusia bertopeng senyum
orang bodoh yang membuat orang tertawa dengan kekonyolan dan kebodohonnya
percaya atau tidak, itulah diriku sekarang
dengan lelucon, aku masuk
dengan lelucon, aku berbaur
dengan lelucon, aku pergi, berharap meninggalkan bekas
tawa
aku benar2 suka membuat orang lain tertawa
yah..., dapat dikatakan, itulah cara aku bergaul
dengan kekonyolan aku berbicara
jadi, gw ke ultahnya gaby, di sana, ada yang namanya first cake
tapi, sama seperti joker
aku mempunyai kekurangan
dan aku berharap dengan topeng senyum lebarku aku dapat menyembunyikannya
tidak. Dengan. Baik.
seseorang pasti dapat menemukan wajah asliku
yang buruk dan tercela
sangat gw yakinkan, dia ga bakal milih gw, yah, well, dari awal gw udah ga simpatik sama dia
kadang mereka menjauhiku karena apa yang mereka temukan itu
terkadang merasa kasihan
dan terkadang mereka malah menghibur sang joker
sang joker, badut jahanam yang selalu membuat masalah dari balik topengnya
gw selalu merasa gw ini cuma seorang cadangan dalam pertemanannya, jadi, dari seblum2nya,
tetapi, badut ini mempunyai sebuah pertanyaan
haruskah seorang badut selalu tersenyum?
haruskah seorang badut selalu menghibur?
bahkan, ketika pertunjukannya dihina, tidak diacuhkan oleh orang lain?
gw udah ga terlalu mau dateng ke ultahnya dia, dan, tahukah lo? gw dikasih, tepatnya ditunjuk
Haruskah sang badut tetap tersenyum?
bahkan ketika orang yang tidak memperdulikan pertunjukannya sudah meminta maaf
bahkan berkata bahwa ia adalah badut terhebat di dunia?
sebagai orang yang berhak nerima tuh kue?! Hahahaha, gw tau banget kalo dia itu cuman mau ngebaek2in gw, kliatan! Well, gw emang merasa ga enak, tapi, so what? biar aja lah, toh dia ga bilang teman yang paling deket, tapi paling baek (dan gw rasa baek itu banyak definisinya)
orang bodoh yang membuat orang tertawa dengan kekonyolan dan kebodohonnya
percaya atau tidak, itulah diriku sekarang
dengan lelucon, aku masuk
dengan lelucon, aku berbaur
dengan lelucon, aku pergi, berharap meninggalkan bekas
tawa
aku benar2 suka membuat orang lain tertawa
yah..., dapat dikatakan, itulah cara aku bergaul
dengan kekonyolan aku berbicara
jadi, gw ke ultahnya gaby, di sana, ada yang namanya first cake
tapi, sama seperti joker
aku mempunyai kekurangan
dan aku berharap dengan topeng senyum lebarku aku dapat menyembunyikannya
tidak. Dengan. Baik.
seseorang pasti dapat menemukan wajah asliku
yang buruk dan tercela
sangat gw yakinkan, dia ga bakal milih gw, yah, well, dari awal gw udah ga simpatik sama dia
kadang mereka menjauhiku karena apa yang mereka temukan itu
terkadang merasa kasihan
dan terkadang mereka malah menghibur sang joker
sang joker, badut jahanam yang selalu membuat masalah dari balik topengnya
gw selalu merasa gw ini cuma seorang cadangan dalam pertemanannya, jadi, dari seblum2nya,
tetapi, badut ini mempunyai sebuah pertanyaan
haruskah seorang badut selalu tersenyum?
haruskah seorang badut selalu menghibur?
bahkan, ketika pertunjukannya dihina, tidak diacuhkan oleh orang lain?
gw udah ga terlalu mau dateng ke ultahnya dia, dan, tahukah lo? gw dikasih, tepatnya ditunjuk
Haruskah sang badut tetap tersenyum?
bahkan ketika orang yang tidak memperdulikan pertunjukannya sudah meminta maaf
bahkan berkata bahwa ia adalah badut terhebat di dunia?
sebagai orang yang berhak nerima tuh kue?! Hahahaha, gw tau banget kalo dia itu cuman mau ngebaek2in gw, kliatan! Well, gw emang merasa ga enak, tapi, so what? biar aja lah, toh dia ga bilang teman yang paling deket, tapi paling baek (dan gw rasa baek itu banyak definisinya)
Senin, 13 Juli 2009
Yesterday...
Ini bener2 gw hasilkan Sabtu kemarin. Iseng di HP.
Kenapa gw ngetik hal ini? Well...,
Aku melihat sekelilingku.
Satu lingkaran. Dua lingkaran. Tiga...
Aku mencari-cari. Membolak-balik.
Mencari warna ku.
Tetapi, bagaimana pun juga, aku tidak menemukan warnaku.
Abu-abu.
Tidak merah.
Tidak biru.
Tidak ungu.
Tidak warna-warna ceria itu.
Warnaku warna dingin. Warnaku warna yang tidak disukai jika berdiri sendiri.
Jadi, kapan aku dapat bertemu warnaku?
Dalam pesta ini.
Di mana banyak warnaku, tetapi mereka tidak sesuai denganku?
Ini dihasilin di pestanya Jeje. Waktu itu gw bener2 ga ada temen, tepatnya, kelompok. Jadi, gw, daripada nganggur, ngetik2 ini di hp daripada keliatan bgt sendirinya. Hahaha, what a pity girl!
Yang kedua:
Benci. Aku benci perpisahan.
Pisah. Berputus hubungan.
Tangis. Aku pasti menangis akan sebuah perpisahan.
Mau perpisahanku. Atau perpisahan orang lain.
Mengapa? Bukankah jika berpisah dapat bertemu kembali?
Tidak. Bagiku tidak.
Sebuah pertemuan tidak berarti bagiku jika sudah diselingi sebuah perpisahan.
Oh, well, ini juga gw ketik pas pestanya Jeje. Kenapa? Karena Jeje, btw ini bukan jeje Emily, bakal ke Malay buat belajar. Sebenernya gw ga terlalu deket ma Jeje. Tapi, gw bener2 ga suka yang namanya 'pisah'.
Gw memikirkan kedua hal itu, secara implisit, sama Dea.
Dan, hal itu mungkin karena gw ini sama sama Dea.
Ingin di mana-mana. Gak mau terikat di suatu tempat. Tapi itu justru bikin lo gak ada di mana-mana.
Itu Dea yang ngomong. Dia ngaku dia kayak gitu.
Trus gw langsung respon. "Iy, gw juga kayak gitu!"
Tapi, trus gw mikir lagi. Kayaknya gw bener2 ga suka terikat di suatu tempat (atau 'lingkaran')
Rasanya, jika udah terlalu terikat, terlalu 'hadir' di suatu tempat, gw bakal merasa 'cukup', trus menjauh.
Yeah, kebiasaan buruk gw. Ga bisa ilang. Dan munculnya juga entah kapan.
Kayak merasa risih gitu.
Tapi, kebiasaan ini juga bikin gw kesel.
Gimana nggak? Gw ngerasa gak 'belong' ke suatu tempat. Dan iri dengan temen2 yang bisa 'masuk' segitu dalemnya ke sebuah lingkaran.
Lalu masalah 'pisah'
Inget rasanya sehabis diputusin si Y?
Lega...., bebas....
Apa mungkin itu sebuah penyangkalan?
Supaya gw gak sedih?
Kayak pembuktian kalo gw gak bergantung sama orang lain? (yang buktinya adalah kebalikannya?)
Hahh...., entah, gw juga gak tau.
Bingung sendiri.
Yang pasti, waktu gw nulis yang pertama, gw bener2 ngerasa bego waktu itu.
Gak tau mau ke mana.
Hell. Tau ah, gelap! (kata2 bagus untuk gak peduli sama suatu hal! Gud Jop Ndy!)
Kenapa gw ngetik hal ini? Well...,
Aku melihat sekelilingku.
Satu lingkaran. Dua lingkaran. Tiga...
Aku mencari-cari. Membolak-balik.
Mencari warna ku.
Tetapi, bagaimana pun juga, aku tidak menemukan warnaku.
Abu-abu.
Tidak merah.
Tidak biru.
Tidak ungu.
Tidak warna-warna ceria itu.
Warnaku warna dingin. Warnaku warna yang tidak disukai jika berdiri sendiri.
Jadi, kapan aku dapat bertemu warnaku?
Dalam pesta ini.
Di mana banyak warnaku, tetapi mereka tidak sesuai denganku?
Ini dihasilin di pestanya Jeje. Waktu itu gw bener2 ga ada temen, tepatnya, kelompok. Jadi, gw, daripada nganggur, ngetik2 ini di hp daripada keliatan bgt sendirinya. Hahaha, what a pity girl!
Yang kedua:
Benci. Aku benci perpisahan.
Pisah. Berputus hubungan.
Tangis. Aku pasti menangis akan sebuah perpisahan.
Mau perpisahanku. Atau perpisahan orang lain.
Mengapa? Bukankah jika berpisah dapat bertemu kembali?
Tidak. Bagiku tidak.
Sebuah pertemuan tidak berarti bagiku jika sudah diselingi sebuah perpisahan.
Oh, well, ini juga gw ketik pas pestanya Jeje. Kenapa? Karena Jeje, btw ini bukan jeje Emily, bakal ke Malay buat belajar. Sebenernya gw ga terlalu deket ma Jeje. Tapi, gw bener2 ga suka yang namanya 'pisah'.
Gw memikirkan kedua hal itu, secara implisit, sama Dea.
Dan, hal itu mungkin karena gw ini sama sama Dea.
Ingin di mana-mana. Gak mau terikat di suatu tempat. Tapi itu justru bikin lo gak ada di mana-mana.
Itu Dea yang ngomong. Dia ngaku dia kayak gitu.
Trus gw langsung respon. "Iy, gw juga kayak gitu!"
Tapi, trus gw mikir lagi. Kayaknya gw bener2 ga suka terikat di suatu tempat (atau 'lingkaran')
Rasanya, jika udah terlalu terikat, terlalu 'hadir' di suatu tempat, gw bakal merasa 'cukup', trus menjauh.
Yeah, kebiasaan buruk gw. Ga bisa ilang. Dan munculnya juga entah kapan.
Kayak merasa risih gitu.
Tapi, kebiasaan ini juga bikin gw kesel.
Gimana nggak? Gw ngerasa gak 'belong' ke suatu tempat. Dan iri dengan temen2 yang bisa 'masuk' segitu dalemnya ke sebuah lingkaran.
Lalu masalah 'pisah'
Inget rasanya sehabis diputusin si Y?
Lega...., bebas....
Apa mungkin itu sebuah penyangkalan?
Supaya gw gak sedih?
Kayak pembuktian kalo gw gak bergantung sama orang lain? (yang buktinya adalah kebalikannya?)
Hahh...., entah, gw juga gak tau.
Bingung sendiri.
Yang pasti, waktu gw nulis yang pertama, gw bener2 ngerasa bego waktu itu.
Gak tau mau ke mana.
Hell. Tau ah, gelap! (kata2 bagus untuk gak peduli sama suatu hal! Gud Jop Ndy!)
Selasa, 30 Juni 2009
Bingung
Udah lama banget gw ga ol. Kenapa?
Karena ada Sims 3 sama Harvest Moon Rune Factory 2!
Harharhar. Gila, dua game itu bener2 bikin gw jauh dari yang namanya internet!
Dan..., ngomong2 soal inet, gw jadi inget Urami Makoto, karakter gw di salah satu forum.
Dan..., ngomongin soal Sims 3 juga bikin gw keinget sama si Uraura ini. Soalnya gw bikin salah satu karakter di Sims mirip sama dia.
Trus, kemaren gw nonton BBF (boys before flower) di Indosiar, dan..., si Mr. siapa itu (yang sama kayak Tao Ming Tse) mengingatkan gw akan si Uraura. Hah..., mereka sama2 kayak anak2. Sama2 tajir. Sama2 bego ( ga tau juga sih, tapi si Uraura mah bego). Sama2 lemah sama orang yang disuka.
Dan, waktu dulu gw nonton Full House, si Rain kok rasane juga rada mirip sama Uraura ya...?
Ceh, semua itu kayak ngebuktiin bahwa si UramiMakotobego ini adalah sebuah karakter cowok pasaran.
Hell! Entah kenapa gw bener2 jatuh cinta sama ni cowo!
Walau karakter dia pasaran... (entah kenapa gw ga isa bikin karakter dia tetap, konstan, tanpa kepengaruh sama hal2 lain)
Soooooo, walau dia itu pasaran, gw tetep suka, memegang teguh dia, gak pengen dilepas (apa sih?)
Jadi, untuk memasrikan, gw bikin detail tentang dia.
Oke2? :D
Karena ada Sims 3 sama Harvest Moon Rune Factory 2!
Harharhar. Gila, dua game itu bener2 bikin gw jauh dari yang namanya internet!
Dan..., ngomong2 soal inet, gw jadi inget Urami Makoto, karakter gw di salah satu forum.
Dan..., ngomongin soal Sims 3 juga bikin gw keinget sama si Uraura ini. Soalnya gw bikin salah satu karakter di Sims mirip sama dia.
Trus, kemaren gw nonton BBF (boys before flower) di Indosiar, dan..., si Mr. siapa itu (yang sama kayak Tao Ming Tse) mengingatkan gw akan si Uraura. Hah..., mereka sama2 kayak anak2. Sama2 tajir. Sama2 bego ( ga tau juga sih, tapi si Uraura mah bego). Sama2 lemah sama orang yang disuka.
Dan, waktu dulu gw nonton Full House, si Rain kok rasane juga rada mirip sama Uraura ya...?
Ceh, semua itu kayak ngebuktiin bahwa si UramiMakotobego ini adalah sebuah karakter cowok pasaran.
Hell! Entah kenapa gw bener2 jatuh cinta sama ni cowo!
Walau karakter dia pasaran... (entah kenapa gw ga isa bikin karakter dia tetap, konstan, tanpa kepengaruh sama hal2 lain)
Soooooo, walau dia itu pasaran, gw tetep suka, memegang teguh dia, gak pengen dilepas (apa sih?)
Jadi, untuk memasrikan, gw bikin detail tentang dia.
Oke2? :D
Selasa, 23 Juni 2009
Kamper
Bau. Di sini terlalu bau.
Aku. Sudah. Tidak. Tahan.
Aku pun keluar, menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu kembali memberanikan diri memasuki kamar itu.
Tanganku menggapai-gapai. Menjelajah, mencari-cari diantara tumpukan barang itu.
Pakaian, buku, deodoran, dompet.
Seluruh barang menutupi meja.
Menghabiskan tenaga dan waktuku.
Membuatku makin merindukan udara segar.
Ya, bagaimana aku bisa tahan, pikirku sambil tersenyum sinis, setelah, akhirnya, keluar dari kamar itu dan mendapatkan udara segar. Nafasku tersengal-sengal.
Di sana bau. Pengap.
Bau pesing dan keringat bercampur di kamar itu.
Bahu-membahu berusaha mengeluarkan tiap orang, kecuali si pembuat bau.
Pembuat bau itu seorang lelaki.
Kakek-kakek bangkotan yang tidak tahu diri.
Penderita alzeimer yang berpikir dan berucap seperti anak kecil.
Jangan harapkan ia akan mengingat namamu. Ia telah kehilangan ingatannya selama sepuluh tahun terakhir.
Yang, berarti, ia melupakan cucu, menantu, dan hal-hal lain selama sepuluh tahun terakhir ini.
Untungnya, dan sayangnya, cucu yang dilupakannya itu bukanlah aku.
Untung, karena aku tidak harus ditanyai berbagai macam hal.
Sayang, karena dengan begitu ia tidak akan terlalu memperdulikan aku.
Well, sebenarnya aku sendiri juga tidak berharap ia melupakan ku.
Malah, lebih baik ia tidak menderita alzeimer.
Degenerasi sel-sel syaraf otak.
Membuatnya harus didikte, diberitahu, diperlakukan layaknya anak kecil.
Yah..., setidaknya, aku hanya harus menahanya selama sebulan lagi.
Dan, kamar itu, kamarku, akan berubah kembali sesuai dengan aroma ku.
Bukan aromanya.
.........
Mengapa ya, nenekku tahan tidur dalam kamar itu?
Karena alasan cinta kah?
Well, we don't know, and won't know the reason.
Aku. Sudah. Tidak. Tahan.
Aku pun keluar, menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu kembali memberanikan diri memasuki kamar itu.
Tanganku menggapai-gapai. Menjelajah, mencari-cari diantara tumpukan barang itu.
Pakaian, buku, deodoran, dompet.
Seluruh barang menutupi meja.
Menghabiskan tenaga dan waktuku.
Membuatku makin merindukan udara segar.
Ya, bagaimana aku bisa tahan, pikirku sambil tersenyum sinis, setelah, akhirnya, keluar dari kamar itu dan mendapatkan udara segar. Nafasku tersengal-sengal.
Di sana bau. Pengap.
Bau pesing dan keringat bercampur di kamar itu.
Bahu-membahu berusaha mengeluarkan tiap orang, kecuali si pembuat bau.
Pembuat bau itu seorang lelaki.
Kakek-kakek bangkotan yang tidak tahu diri.
Penderita alzeimer yang berpikir dan berucap seperti anak kecil.
Jangan harapkan ia akan mengingat namamu. Ia telah kehilangan ingatannya selama sepuluh tahun terakhir.
Yang, berarti, ia melupakan cucu, menantu, dan hal-hal lain selama sepuluh tahun terakhir ini.
Untungnya, dan sayangnya, cucu yang dilupakannya itu bukanlah aku.
Untung, karena aku tidak harus ditanyai berbagai macam hal.
Sayang, karena dengan begitu ia tidak akan terlalu memperdulikan aku.
Well, sebenarnya aku sendiri juga tidak berharap ia melupakan ku.
Malah, lebih baik ia tidak menderita alzeimer.
Degenerasi sel-sel syaraf otak.
Membuatnya harus didikte, diberitahu, diperlakukan layaknya anak kecil.
Yah..., setidaknya, aku hanya harus menahanya selama sebulan lagi.
Dan, kamar itu, kamarku, akan berubah kembali sesuai dengan aroma ku.
Bukan aromanya.
.........
Mengapa ya, nenekku tahan tidur dalam kamar itu?
Karena alasan cinta kah?
Well, we don't know, and won't know the reason.
New Mr. Fishy
Our new Mr. Fishy:
Name: Mr. Fishy (? untuk lebih jelas tanya dedek gw)
Sex : Seriously Unknown (kayaknya dipilih ga berdasarkan gender)
Fam : Mrs. Fishy, Dedek Fishy 1, Dedek Fishy 2 (yang masih diragukan sedarah dengan Mr
Fishy)
Colour : Orange
Fav. Word : "......." (dari tadi dia mangap tapi ga kedengeran ngomong apa)
Fakta mengenai si Mr. Fishy: gw ga tau dia yang mana, hawhawhaw~~~~
Garing. Udah ah.
Yep, yep, our fam have 4 new fishes. Sebetulnya, entah si ikan berasa beruntung ada di keluarga gw ato ngga gw ga tau. Soalnya ini ikan dibeli buat kerjaan dede gw selama liburan (dan itu adalah sebuah tanda buruk). Terutama lagi, tu ikan sekarang uda sering banget dibanggain sama dia (yang artinya temen2nya bakal banyak yang dateng buat 'ngeliatin'.
Untungnya sih..., keluarga gw punya record yang baik dalam memelihara hewan. Yang secara gak langsung, nyokap gw yang punya record baik itu (hawhaw, gw males ganti2 aer buat ikan, bau).
Btw..., gw berasa banget kalo sekarang ini cara nulis gw berubah. Yeah, berubah!
Mengapa begitu...? Kita tanya galileo.
But, seriously, gw merasa banget kalo cara gw nulis itu masih kepengaruh abis sama para penulis2 hebat itu. Lord of the Ring, Harry Potter, dan baru2 ini, yang sangat berbeda dari gaya gw nulis, si Raditkambingbego sama Ibukeraniyangpunyabosnyebelin. Oke, dua penulis dengan bahasa serampangan n sama kayak gw sekarang ini, ngeblog.
Harharhar, sekarang gw lagi demam sama si Ibukeraniyangpunyabosnyebelin jadi, ntar aja ah ngarangnya~~♥ (harharhar, bilang aja meles getoh!)
Kerjaan ga penting yang lagi gw kerjain saat ini (mumpung lagi semangat nulis, hajarrrrr!!!!) adalah bikin gelang persahabatan. Waktu itu ngeliat temen bikin begituan n, jujur, dalem ati gw ngomong: Ohhh, ternyata gak susah2 amit. Padahal waktu kelas enam esde gw berasa susaaaahhhh banget bikin begituan (entah gw nya bego, entah gurunya rada bebelit ngajarnya, entah gw nya emang bego)
Hemmmm, pengen nulis tapi males.
Tar aja deh~~~
Mending wawancarain si Mr. Fishy~~~ :D
Tunggu hasil wawancara gw!
Harharharharharharharharharharharharhar
Name: Mr. Fishy (? untuk lebih jelas tanya dedek gw)
Sex : Seriously Unknown (kayaknya dipilih ga berdasarkan gender)
Fam : Mrs. Fishy, Dedek Fishy 1, Dedek Fishy 2 (yang masih diragukan sedarah dengan Mr
Fishy)
Colour : Orange
Fav. Word : "......." (dari tadi dia mangap tapi ga kedengeran ngomong apa)
Fakta mengenai si Mr. Fishy: gw ga tau dia yang mana, hawhawhaw~~~~
Garing. Udah ah.
Yep, yep, our fam have 4 new fishes. Sebetulnya, entah si ikan berasa beruntung ada di keluarga gw ato ngga gw ga tau. Soalnya ini ikan dibeli buat kerjaan dede gw selama liburan (dan itu adalah sebuah tanda buruk). Terutama lagi, tu ikan sekarang uda sering banget dibanggain sama dia (yang artinya temen2nya bakal banyak yang dateng buat 'ngeliatin'.
Untungnya sih..., keluarga gw punya record yang baik dalam memelihara hewan. Yang secara gak langsung, nyokap gw yang punya record baik itu (hawhaw, gw males ganti2 aer buat ikan, bau).
Btw..., gw berasa banget kalo sekarang ini cara nulis gw berubah. Yeah, berubah!
Mengapa begitu...? Kita tanya galileo.
But, seriously, gw merasa banget kalo cara gw nulis itu masih kepengaruh abis sama para penulis2 hebat itu. Lord of the Ring, Harry Potter, dan baru2 ini, yang sangat berbeda dari gaya gw nulis, si Raditkambingbego sama Ibukeraniyangpunyabosnyebelin. Oke, dua penulis dengan bahasa serampangan n sama kayak gw sekarang ini, ngeblog.
Harharhar, sekarang gw lagi demam sama si Ibukeraniyangpunyabosnyebelin jadi, ntar aja ah ngarangnya~~♥ (harharhar, bilang aja meles getoh!)
Kerjaan ga penting yang lagi gw kerjain saat ini (mumpung lagi semangat nulis, hajarrrrr!!!!) adalah bikin gelang persahabatan. Waktu itu ngeliat temen bikin begituan n, jujur, dalem ati gw ngomong: Ohhh, ternyata gak susah2 amit. Padahal waktu kelas enam esde gw berasa susaaaahhhh banget bikin begituan (entah gw nya bego, entah gurunya rada bebelit ngajarnya, entah gw nya emang bego)
Hemmmm, pengen nulis tapi males.
Tar aja deh~~~
Mending wawancarain si Mr. Fishy~~~ :D
Tunggu hasil wawancara gw!
Harharharharharharharharharharharharhar
Kamis, 18 Juni 2009
Penyesalan
Penyesalan. Judul yang simpel, hanya dipikirkan sebentar setelah semuanya selesai. =w=
Well, selamat membaca ^^
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu. Dua. Tiga.
Pemuda itu mulai menghitung langkahnya lagi.
Duapuluh…
Ia kehilangan hitungan. Kali ini menyerah setelah hitungan tigapuluhan, ia berusaha terus menyeret langkahnya. Membuat dirinya terlihat seperti seorang pemabuk yang berjalan gontai. Tetapi ia tidak peduli dengan semua itu. Tidak dengan pakaian compang-campingnya. Tidak dengan rambut masai, jenggot tipis yang tumbuh bebas, atau bau badannya. Atau darah yang masih menetes di kemejanya. Tidak semua hal itu.
Kali ini bukan tentang dirinya. Bukan, bukan itu. Ini menyangkut hal lain.
Bapak…, Ibu…, Adik…
Kata-kata itu terus terulang di kepalanya. Bagai kata-kata magis yang dapat menghantarkan ketiga orang itu ke hadapannya. Kembali ke kehidupannya. Saat ini.
Tetapi, seiring dengan makin banyaknya kata-kata itu di otaknya, penyesalan makin meresap ke dalam dirinya.
Penyesalan, penyesalan.
Ia tersenyum. Mengutuk dirinya sendiri.
Perlahan, ia melambatkan langkahnya. Tidak berusaha untuk terus melangkah. Menyadari tidak memiliki tujuan. Tidak memiliki rumah. Seiring dengan pemahaman yang menusuk tajam, ingatannya kembali ke masa-masa sebelumnya. Lebih segar daripada sebelumnya.
Setengah sembilan. Terlalu pagi untuk hari Minggu. Tubuhnya masih ingin merasakan bantal dan selimut. Tetapi, ia tahu, ia tidak dapat tidur lagi. Sebentar lagi pasti akan datang seorang ‘pengurus rumah’ yang membangunkannya.
Dengan malas, ia keluar dari kamar. Menyeret langkahnya menuju ruang depan.
“Pagi, Kakak!” Ia merasa mendengar seseorang menyapanya. Ia membalikkan badan, dan mendapatkan seseorang dengan muka segar berseri-seri menatapnya. Malas mengucapkan sesuatu, ia hanya tersenyum asal.
“Kak! Hari ini kita mau ke mana? Keluar yuk!” Tangan-tangan kecil mulai menarik-narik piyama tidurnya. Mengharapkan perhatian.
Dasar anak kecil, pikirnya kesal. Mengutuk ‘pengurus rumah’ yang selalu membangunkannya dengan teriakan dan cengiran tidak penting.
“Mau ke mana?” Walau bertanya, ia tidak mengharapkan jawaban. Tidak mau mengacuhkan jawaban anak di depannya.
“Ke taman bermain! Ke taman bermain!” Melihat permintaannya ada harapan untuk menjadi kenyataan, anak itu mulai melompat-lompat riang mengelilingi kakaknya.
“Iya, nanti ya,” jawabnya asal. Benar-benar mau memanfaatkan arti ambigu dari kata ‘nanti’. Entah untuk berapa kali ia berlindung pada kata mujarab itu. Dan, untuk itu, ia berterima kasih pada orang yang menciptakan kata menyenangkan itu.
“Kapan?” Tanya anak itu, mulai curiga dengan setiap jawaban berunsur ‘nanti’.
“Kapan-kapan,” ia menjawab, kembali berlindung pada kata mujarab lainnya.
“Huh! Selalu begitu! Kakak selalu bilang, nanti, kapan-kapan,” keluh anak itu.
Pemuda itu hanya tersenyum. Tidak membalas keluhan adiknya.
Masalah selesai, tinggal menunggu hari ini berakhir tanpa gangguan dari anak ini.
Pemuda itu meringis mengingat kejadian itu. Sudah berapa lama ia dan adiknya tidak pergi keluar bareng. Sebulan, kah? Atau tiga bulan? Ah, yang penting sudah lama. Terlalu lama.
Padahal, ketika adiknya belum lahir, ia selalu memimpikan seorang adik. Adik yang bisa diajak bermain bersama, berantem bersama, atau pergi bersama.
“Hah…, padahal…, dulu aku selalu ingin punya teman main bola atau basket… Lalu, teman untuk pergi bareng… Mungkin sekedar ke mall atau taman kota…,” pemuda itu tersenyum membayangkan kemungkinan itu.
“Tapi sudah terlambat…,”
Senja telah tiba. Matahari mulai tenggelam dan membiaskan cahaya terakhirnya. Sore yang indah. Tetapi, itu tidak penting. Pemuda itu sekarang sedang menghadapi makanannya. Terburu-buru. Sebentar-sebentar, ia melirik jam tangannya.
Setengah jam lagi, dan ia harus sudah ada di depan pagar rumah pacarnya. Siap pergi bersama. Mengingat hal itu, ia semakin tergesa-gesa. Kemudian, merasa tidak mungkin mengejar waktu, ia berhenti. Meninggalkan sisa makanannya, lalu berlari menuju kamarnya.
Ia membongkar-bongkar lemari pakaiannya. Menemukan baju yang pas di bagian bawah tumpukan, lalu memakainya. Setelah selesai mematu-matutkan diri di cermin untuk beberapa saat, pemuda itu kembali keluar. Kali ini mencari sepatunya.
Tidak menemukan hal yang diinginkannya, ia berteriak, “Ibu…! Sepatuku mana? Yang warnanya biru itu.” Sambil berteriak, ia menemukan sebuah majalah otomotif lama. Membukanya, lalu tertarik pada satu halaman yang sudah dibacanya dulu.
“Ibu…?” Tanya pemuda itu lagi.
Tidak beberapa lama, Ibunya muncul. Siap menceramahinya.
“Kamu gimana, sih? Sepatumu harusnya ada di rak.” Omel wanita separuh baya itu.
“Tapi aku udah cari. Gak ada! Di mana, Bu? Aku buru-buru nih!” Pemuda itu bangkit. Mendekati rak sepatu, dan mengeluarkan satu per satu kotak yang ada di sana. Mengecek dalamnya.
“Kalau gitu ada di depan pintu. Dari kemarin kamu belum masukkin ke rak sepatu, kan?” Ibunya bertanya gemas.
“Ah, iya,” pemuda itu bergegas ke depan pintu. Mendapati sepatunya.
“Udah, ya, Bu!” Ia pun mengambil kunci motor lalu keluar.
“Hei! Ibu titip garam buat di rumah, ya!”
“Ah…, kan ada warung di depan, Bu. Nanti Ibu beli sendiri saja. Da, Ibu!”
“Hati-ha…,” kata-kata itu terputus. Pemuda itu sudah terlanjur tenggelam di kegelapan malam.
Kejadian lain. Singkat. Tetapi perasaan bersalah makin menghujamnya.
Jika diingat, ia tidak pernah membereskan piringnya. Selalu di sana. Di meja makan, tergeletak dengan berantakan. Satu kesalahan kecil yang menyusahkan ibunya.
Ia juga tidak pernah mencuci, melipat, atau menyetrika baju. Tidak. Ia lebih sering membongkar tumpukan baju sembarangan lalu membiarkannya di sana. Terlihat seperti onggokan kain kotor. Dua kesalahan kecil yang menyusahkan ibunya.
Tidak juga dengan perasaan hormat. Ia sangat sering menyuruh ibunya mencarikan barang-barang untuknya. Tiga kesalahan. Kali ini makin mengukuhkan kesalahannya.
Atau dengan salam perpisahan yang layak. Ia selalu meluncur pergi sebelum ibunya selesai bicara. Empat kesalahan. Kalau begitu, aku menganggap ibuku apa?
Bahkan, bantuan yang tidak menyusahkan tidak pernah ditanggapinya dengan benar.
…, apa aku menganggap ibuku sebagai pembantu?
“Hah…, kenapa ketika sudah terlambat seperti ini aku baru menyadarinya?”
Malam. Malam menjelang. Menutupi semua hal dengan hitam kelamnya. Untuk menonjolkan rembulan pucat yang bersinar keperakan. Sementara orang lain akan terperangah dengan sinar rembulan, pemuda itu sibuk dengan I-pod dan earphone di telinganya. Sibuk menangkap suara-suara bising yang dihasilkan alat elektronik itu. Jari-jarinya menghentak-hentak di kemudi mobil. Ia telah larut dalam dunianya sendiri.
“Kak, kalau nyetir hati-hati. Kalau tidak, Bapak gantikan saja, ya?” Bapaknya di sana. Di kursi depan. Cemas dengan cara menyetir anaknya.
Pemuda itu tidak mendengar. Ia masih sibuk dengan lagu yang menghentak di telinganya.
Melihat cara menyetir anaknya, sang bapak hanya dapat mengeleng-geleng frustasi. Tetapi, masih ada hal yang membuat jantungnya tidak tenang.
“Kak, kamu sudah periksa ban belakang, kan? Mesin sudah diperiksakan? Rem aman, kan?” Bapaknya menanyakan pertanyaan bertubi. Mengharapkan jawaban yang memuaskan dari anaknya.
“Hmm…,” jawaban singkat. Antara ya, dan tidak. Tidak ada yang pernah tahu. Ia sendiri lupa maksud dari dehamannya itu.
“Kak, kamu jangan main-main, ya. Kamu sudah besar. Dan, sekarang ini, kalau kamu gak awas, kamu bisa bikin kita kece…,”
-lakaan
Ya, pasti hal itulah yang ingin disampaikan Bapak. Walau Bapak tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, sekarang aku tahu apa maksudnya. Seketika itu aku tahu.
Belum sempat Bapaknya menyelesaikan kata-katanya, warna hitam pekat telah mendekati mobil mereka. Dengan cepat, jalan itu berbelok. Tidak tajam, tetapi pemuda itu tidak sempat memutar roda mobil atau bahkan hanya untuk mengerem.
Mobil mereka meluncur mulus ke dalam kegelapan jurang.
Satu…, dua…, tiga….
Pemuda itu kembali mencoba untuk berhitung. Mencoba meneruskan langkahnya.
Penyesalan, ya, penyesalan selalu datang terlambat. Sangat terlambat.
Hingga tidak ada waktu untuk memperbaikinya.
Sangat ingin ia memperbaikinya. Tapi. Waktu tidak dapat diputar. Kejadian yang sudah terjadi tidak dapat dihapus.
Terlambat, terlambat. Semuanya selalu terlambat.
Ia hanya bisa mengubah masa depan. Mengatur ulang kehidupannya yang akan datang.
Mencoba tersenyum pada bulan tipis dan mentari pagi, ia meneruskan langkahnya. Mengingat-ingat semua kenangan untuk dijadikan pegangan hari esok.
Untuk dirinya yang lebih baik.
berantakan, cuman copas dari word
kalo hasilnya sangat jelek...
harharhar, WAJAR BANGET
Well, selamat membaca ^^
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu. Dua. Tiga.
Pemuda itu mulai menghitung langkahnya lagi.
Duapuluh…
Ia kehilangan hitungan. Kali ini menyerah setelah hitungan tigapuluhan, ia berusaha terus menyeret langkahnya. Membuat dirinya terlihat seperti seorang pemabuk yang berjalan gontai. Tetapi ia tidak peduli dengan semua itu. Tidak dengan pakaian compang-campingnya. Tidak dengan rambut masai, jenggot tipis yang tumbuh bebas, atau bau badannya. Atau darah yang masih menetes di kemejanya. Tidak semua hal itu.
Kali ini bukan tentang dirinya. Bukan, bukan itu. Ini menyangkut hal lain.
Bapak…, Ibu…, Adik…
Kata-kata itu terus terulang di kepalanya. Bagai kata-kata magis yang dapat menghantarkan ketiga orang itu ke hadapannya. Kembali ke kehidupannya. Saat ini.
Tetapi, seiring dengan makin banyaknya kata-kata itu di otaknya, penyesalan makin meresap ke dalam dirinya.
Penyesalan, penyesalan.
Ia tersenyum. Mengutuk dirinya sendiri.
Perlahan, ia melambatkan langkahnya. Tidak berusaha untuk terus melangkah. Menyadari tidak memiliki tujuan. Tidak memiliki rumah. Seiring dengan pemahaman yang menusuk tajam, ingatannya kembali ke masa-masa sebelumnya. Lebih segar daripada sebelumnya.
***
Pagi itu cerah dan menyenangkan, sangat cocok untuk melakukan kegiatan di luar. Tapi, itu bukan untuknya. Setengah mengeluh, ia membuka matanya. Perlahan, ia bangkit berdiri dari kasur, kemudian meregangkan otot-ototnya. Setelah puas melemaskan otot-ototnya, ia melihat jam di dinding.Setengah sembilan. Terlalu pagi untuk hari Minggu. Tubuhnya masih ingin merasakan bantal dan selimut. Tetapi, ia tahu, ia tidak dapat tidur lagi. Sebentar lagi pasti akan datang seorang ‘pengurus rumah’ yang membangunkannya.
Dengan malas, ia keluar dari kamar. Menyeret langkahnya menuju ruang depan.
“Pagi, Kakak!” Ia merasa mendengar seseorang menyapanya. Ia membalikkan badan, dan mendapatkan seseorang dengan muka segar berseri-seri menatapnya. Malas mengucapkan sesuatu, ia hanya tersenyum asal.
“Kak! Hari ini kita mau ke mana? Keluar yuk!” Tangan-tangan kecil mulai menarik-narik piyama tidurnya. Mengharapkan perhatian.
Dasar anak kecil, pikirnya kesal. Mengutuk ‘pengurus rumah’ yang selalu membangunkannya dengan teriakan dan cengiran tidak penting.
“Mau ke mana?” Walau bertanya, ia tidak mengharapkan jawaban. Tidak mau mengacuhkan jawaban anak di depannya.
“Ke taman bermain! Ke taman bermain!” Melihat permintaannya ada harapan untuk menjadi kenyataan, anak itu mulai melompat-lompat riang mengelilingi kakaknya.
“Iya, nanti ya,” jawabnya asal. Benar-benar mau memanfaatkan arti ambigu dari kata ‘nanti’. Entah untuk berapa kali ia berlindung pada kata mujarab itu. Dan, untuk itu, ia berterima kasih pada orang yang menciptakan kata menyenangkan itu.
“Kapan?” Tanya anak itu, mulai curiga dengan setiap jawaban berunsur ‘nanti’.
“Kapan-kapan,” ia menjawab, kembali berlindung pada kata mujarab lainnya.
“Huh! Selalu begitu! Kakak selalu bilang, nanti, kapan-kapan,” keluh anak itu.
Pemuda itu hanya tersenyum. Tidak membalas keluhan adiknya.
Masalah selesai, tinggal menunggu hari ini berakhir tanpa gangguan dari anak ini.
Pemuda itu meringis mengingat kejadian itu. Sudah berapa lama ia dan adiknya tidak pergi keluar bareng. Sebulan, kah? Atau tiga bulan? Ah, yang penting sudah lama. Terlalu lama.
Padahal, ketika adiknya belum lahir, ia selalu memimpikan seorang adik. Adik yang bisa diajak bermain bersama, berantem bersama, atau pergi bersama.
“Hah…, padahal…, dulu aku selalu ingin punya teman main bola atau basket… Lalu, teman untuk pergi bareng… Mungkin sekedar ke mall atau taman kota…,” pemuda itu tersenyum membayangkan kemungkinan itu.
“Tapi sudah terlambat…,”
Senja telah tiba. Matahari mulai tenggelam dan membiaskan cahaya terakhirnya. Sore yang indah. Tetapi, itu tidak penting. Pemuda itu sekarang sedang menghadapi makanannya. Terburu-buru. Sebentar-sebentar, ia melirik jam tangannya.
Setengah jam lagi, dan ia harus sudah ada di depan pagar rumah pacarnya. Siap pergi bersama. Mengingat hal itu, ia semakin tergesa-gesa. Kemudian, merasa tidak mungkin mengejar waktu, ia berhenti. Meninggalkan sisa makanannya, lalu berlari menuju kamarnya.
Ia membongkar-bongkar lemari pakaiannya. Menemukan baju yang pas di bagian bawah tumpukan, lalu memakainya. Setelah selesai mematu-matutkan diri di cermin untuk beberapa saat, pemuda itu kembali keluar. Kali ini mencari sepatunya.
Tidak menemukan hal yang diinginkannya, ia berteriak, “Ibu…! Sepatuku mana? Yang warnanya biru itu.” Sambil berteriak, ia menemukan sebuah majalah otomotif lama. Membukanya, lalu tertarik pada satu halaman yang sudah dibacanya dulu.
“Ibu…?” Tanya pemuda itu lagi.
Tidak beberapa lama, Ibunya muncul. Siap menceramahinya.
“Kamu gimana, sih? Sepatumu harusnya ada di rak.” Omel wanita separuh baya itu.
“Tapi aku udah cari. Gak ada! Di mana, Bu? Aku buru-buru nih!” Pemuda itu bangkit. Mendekati rak sepatu, dan mengeluarkan satu per satu kotak yang ada di sana. Mengecek dalamnya.
“Kalau gitu ada di depan pintu. Dari kemarin kamu belum masukkin ke rak sepatu, kan?” Ibunya bertanya gemas.
“Ah, iya,” pemuda itu bergegas ke depan pintu. Mendapati sepatunya.
“Udah, ya, Bu!” Ia pun mengambil kunci motor lalu keluar.
“Hei! Ibu titip garam buat di rumah, ya!”
“Ah…, kan ada warung di depan, Bu. Nanti Ibu beli sendiri saja. Da, Ibu!”
“Hati-ha…,” kata-kata itu terputus. Pemuda itu sudah terlanjur tenggelam di kegelapan malam.
Kejadian lain. Singkat. Tetapi perasaan bersalah makin menghujamnya.
Jika diingat, ia tidak pernah membereskan piringnya. Selalu di sana. Di meja makan, tergeletak dengan berantakan. Satu kesalahan kecil yang menyusahkan ibunya.
Ia juga tidak pernah mencuci, melipat, atau menyetrika baju. Tidak. Ia lebih sering membongkar tumpukan baju sembarangan lalu membiarkannya di sana. Terlihat seperti onggokan kain kotor. Dua kesalahan kecil yang menyusahkan ibunya.
Tidak juga dengan perasaan hormat. Ia sangat sering menyuruh ibunya mencarikan barang-barang untuknya. Tiga kesalahan. Kali ini makin mengukuhkan kesalahannya.
Atau dengan salam perpisahan yang layak. Ia selalu meluncur pergi sebelum ibunya selesai bicara. Empat kesalahan. Kalau begitu, aku menganggap ibuku apa?
Bahkan, bantuan yang tidak menyusahkan tidak pernah ditanggapinya dengan benar.
…, apa aku menganggap ibuku sebagai pembantu?
“Hah…, kenapa ketika sudah terlambat seperti ini aku baru menyadarinya?”
Malam. Malam menjelang. Menutupi semua hal dengan hitam kelamnya. Untuk menonjolkan rembulan pucat yang bersinar keperakan. Sementara orang lain akan terperangah dengan sinar rembulan, pemuda itu sibuk dengan I-pod dan earphone di telinganya. Sibuk menangkap suara-suara bising yang dihasilkan alat elektronik itu. Jari-jarinya menghentak-hentak di kemudi mobil. Ia telah larut dalam dunianya sendiri.
“Kak, kalau nyetir hati-hati. Kalau tidak, Bapak gantikan saja, ya?” Bapaknya di sana. Di kursi depan. Cemas dengan cara menyetir anaknya.
Pemuda itu tidak mendengar. Ia masih sibuk dengan lagu yang menghentak di telinganya.
Melihat cara menyetir anaknya, sang bapak hanya dapat mengeleng-geleng frustasi. Tetapi, masih ada hal yang membuat jantungnya tidak tenang.
“Kak, kamu sudah periksa ban belakang, kan? Mesin sudah diperiksakan? Rem aman, kan?” Bapaknya menanyakan pertanyaan bertubi. Mengharapkan jawaban yang memuaskan dari anaknya.
“Hmm…,” jawaban singkat. Antara ya, dan tidak. Tidak ada yang pernah tahu. Ia sendiri lupa maksud dari dehamannya itu.
“Kak, kamu jangan main-main, ya. Kamu sudah besar. Dan, sekarang ini, kalau kamu gak awas, kamu bisa bikin kita kece…,”
-lakaan
Ya, pasti hal itulah yang ingin disampaikan Bapak. Walau Bapak tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, sekarang aku tahu apa maksudnya. Seketika itu aku tahu.
Belum sempat Bapaknya menyelesaikan kata-katanya, warna hitam pekat telah mendekati mobil mereka. Dengan cepat, jalan itu berbelok. Tidak tajam, tetapi pemuda itu tidak sempat memutar roda mobil atau bahkan hanya untuk mengerem.
Mobil mereka meluncur mulus ke dalam kegelapan jurang.
Satu…, dua…, tiga….
Pemuda itu kembali mencoba untuk berhitung. Mencoba meneruskan langkahnya.
Penyesalan, ya, penyesalan selalu datang terlambat. Sangat terlambat.
Hingga tidak ada waktu untuk memperbaikinya.
Sangat ingin ia memperbaikinya. Tapi. Waktu tidak dapat diputar. Kejadian yang sudah terjadi tidak dapat dihapus.
Terlambat, terlambat. Semuanya selalu terlambat.
Ia hanya bisa mengubah masa depan. Mengatur ulang kehidupannya yang akan datang.
Mencoba tersenyum pada bulan tipis dan mentari pagi, ia meneruskan langkahnya. Mengingat-ingat semua kenangan untuk dijadikan pegangan hari esok.
Untuk dirinya yang lebih baik.
berantakan, cuman copas dari word
kalo hasilnya sangat jelek...
harharhar, WAJAR BANGET
Ngebelog......
Ini adalah blog kedua aku.
Blog pertama....
Ah...., cuma diisi 2-3 post dengan banyak draft ga selesai =3=
Hanya berharap yang satu ini bakal aku isi dengan giat.
Yosh!
Blog pertama....
Ah...., cuma diisi 2-3 post dengan banyak draft ga selesai =3=
Hanya berharap yang satu ini bakal aku isi dengan giat.
Yosh!
Langganan:
Komentar (Atom)
pertanyaan pertanyaan
- Mana yang lebih baik: hidup bersenang-senang tapi kau buta dan tidak tahu apa-apa, bahkan tidak peduli akan dunia, atau sangat mengerti akan kehidupan, tetapi karena hal itu kau tidak dapat hidup bersenang-senang?
- Apakah arti hidup, apa tujuan hidup ini?
- Siapa yang salah dalam sebuah kejahatan: pelaku, korban, atau penonton?
- Apakah Tuhan benar-benar ada, di manakah surga?