Bau. Di sini terlalu bau.
Aku. Sudah. Tidak. Tahan.
Aku pun keluar, menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu kembali memberanikan diri memasuki kamar itu.
Tanganku menggapai-gapai. Menjelajah, mencari-cari diantara tumpukan barang itu.
Pakaian, buku, deodoran, dompet.
Seluruh barang menutupi meja.
Menghabiskan tenaga dan waktuku.
Membuatku makin merindukan udara segar.
Ya, bagaimana aku bisa tahan, pikirku sambil tersenyum sinis, setelah, akhirnya, keluar dari kamar itu dan mendapatkan udara segar. Nafasku tersengal-sengal.
Di sana bau. Pengap.
Bau pesing dan keringat bercampur di kamar itu.
Bahu-membahu berusaha mengeluarkan tiap orang, kecuali si pembuat bau.
Pembuat bau itu seorang lelaki.
Kakek-kakek bangkotan yang tidak tahu diri.
Penderita alzeimer yang berpikir dan berucap seperti anak kecil.
Jangan harapkan ia akan mengingat namamu. Ia telah kehilangan ingatannya selama sepuluh tahun terakhir.
Yang, berarti, ia melupakan cucu, menantu, dan hal-hal lain selama sepuluh tahun terakhir ini.
Untungnya, dan sayangnya, cucu yang dilupakannya itu bukanlah aku.
Untung, karena aku tidak harus ditanyai berbagai macam hal.
Sayang, karena dengan begitu ia tidak akan terlalu memperdulikan aku.
Well, sebenarnya aku sendiri juga tidak berharap ia melupakan ku.
Malah, lebih baik ia tidak menderita alzeimer.
Degenerasi sel-sel syaraf otak.
Membuatnya harus didikte, diberitahu, diperlakukan layaknya anak kecil.
Yah..., setidaknya, aku hanya harus menahanya selama sebulan lagi.
Dan, kamar itu, kamarku, akan berubah kembali sesuai dengan aroma ku.
Bukan aromanya.
.........
Mengapa ya, nenekku tahan tidur dalam kamar itu?
Karena alasan cinta kah?
Well, we don't know, and won't know the reason.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar