Rabu, 05 Mei 2010

T.O.P

keranjingan...
kerajingan T.O.P, Choi Seung Hyun oppa~♥
huhuhuhu
dia keren sekali...

kalo mau diliat-liat...
artis2 cowo kesukaan gw terdiri dari:


(mata yang tajam)


(senyum menyenangkan)


(ato senyum kayak gini)


hohoho
(yang terakhir itu tentunya T.O.P)

dan..., ternyata gw juga lemah sama yang satu ini:


(akh!!! matilah kau tuxedo yang bikin cowo2 terlihat keren *scratch scratch*)

T_________T

ngomong2 T.O.P
dia bakalan main di film Into The Gun Fire
MENUNGGU UPLOTAN orang
semoga segera bisa di tonton
amin



Jumat, 29 Januari 2010

Kotak Kotak

Gw sangat suka mengkotak-kotakkan dunia gw.
dan, sekarang ini gw pengen coba untuk benar-benar ngotak-ngotakin dunia gw.
Kotak pertama dan paling besar, adalah sekolah gw.
Bio, kimia, fisika, mat, dll.
Mau ga mau gw harus dan sangat harus mikirin hal-hal itu.
Dan gpp juga lah, toh gw emang suk biologi (yang bisa bikin kepala gw mikirin hal itu berjam-jam dan berdebat berhari-hari sama temen gw dulu)

Kotak kedua, yang gw simpan baik-baik dan gw tunggu-tunggu, adalah paduan suara.
bisa dibilang, kotak kedua ini adalah kotak pelarian gw dari satu minggu yang nyebelin.
Btw, gw adalah orang yang hidup per minggu.
Gw sangat-sangat menunggu yang namanya jumat, sabtu dan minggu.
Dengan mikirin tiga hari itu, gw bisa bersabar ngelewatin empat hari lainnya (dan hal itu sangat berhasil selama hampir satu tahun ini :D)
Di paduan suara, entah mengapa, gw bisa menghadapi hal-hal yang kurang enak kalo di luar padus.
Kayak orang-orang yang gak terlalu deket sama gw.
Soalnya, di sana, pikiran gw adalah untuk bernyanyi. (intinya gw suka nyanyi)

Kotak ketiga, pikiran gw, imajinasi gw, tulisan-tulisan dan ide-ide cerita gw (yang kebanyakan blom ada yang jadi, 5 persen pun)
Di kotak ketiga ini, gw bebas mau ngapain. Itu dunia gw pribadi.
Mau gw bilang gw pacaran sama gebetan gw kek, mau gw merangkai cerita buat tokoh kesukaan gw kek, mau gw cerita tentang gw yang udah sukses kek. Semua TERSERAH gw.
dan, kalau lagi garing di kelas, dunia ini adalah salah satu pelarian gw.
Benar-benar mujarab!

Kotak yang lain, kotak buat make up dan tata rias.
Harus gw akui, gw jadi suka sama yang namanya make up sejak ikut ekskul kecantikan.
Rasanya seneng gitu ngeliat mata orang yang gw rias jadi warna-warni, jadi lebih gede, bulu matanya jadi lebih lentik, dan mukanya jadi kelihatan lebih tirus.
Dandan itu kayak mewarnai. Bedanya, lo gak mewarnai di kertas, tapi di muka orang.
Dan gw suka mewarnai! (hehe)

Kotak lainnya...
hem...
keluarga dan temen2 gw mungkin?
Gw sebisa mungkin ga ngotak-ngotakin temen-temen dan keluarga gw.
Tapi..., kadang gw sangat-sangat terdorong untuk membedakan antara temen sekelas, temen satu sekolah, temen les, temen les dan sekolah, temen gereja, dan keluarga gw jadi kotak-kotak kecil.
Ah..., yang satu ini memang susah...

that's it
I think those all my boxes now.
Maybe before this, I had more boxes, but now...
I just have a few boxes, a few different worlds.
They decreased rapidly before I realise.
Haha.

Jumat, 22 Januari 2010

parah gilllaaaaaa

okeyy...,
ini mungkin bukan yang pertama, tapi ini yang TERPARAH (ngomong dengan gaya sok-sok misteius)
Jadi, pada malam jumat kliwon seorang laki-laki menyapaku dan bertanya:
eh, bok tau tempat clubbing yang banyak lekongnya gyak???

ok, gw lebay, gw salah (saking frustasinya sama yang satu ini)
gw ngaku...
GW KENAK OJICON!! GW KENAK TEACHER COMPLEX!!! GW JADI SUKA AJJUSSHI!!! (yang terakhir ini gw ga yakin gw nulisnya bener)

tapi gitu.
Dan alasannya...
karena dia baek, dia ngajarnya enak, dia pinter, dan gw kepengen ngelaso dia, ditarik, trus bawa pulang buat jadi guru pribadi gw
dan bukan itu aja, gw jadi kepengen bikin cerita tentang dia dan seorang cewek (dan, yeah, gw membayangkan cewe itu adalah gw, hahaha!)
how silly it is?
banget! =A=
cihcihcih
kenapa juga gw bisa kayak gini???

ditambah pula, banyak sekali gosip yang beredar kalo dia itu homo berpankat uke.
hah..., betapa hebatnya gw bisa suka sama guru kayak gitu.
Mana tahun ini umur dia 31 lagi.
parah.

tapi tetep aja, gw terpikat.
dia itu ngajarnya enak, mudah dimengerti, dan sangat baek.
dia kalo ngomongin kesalahan kita pas lagi latian tuh alus
ga nyakitin. bener2 enak
dan..., gw melihat kayaknya dia itu udah masuk banget sama musik
kayaknya dia bener2 enjoy sama musik (dan itu, gw suka, itu yang paling bikin gw jadi kenak complex geje kayak gini)
kliatan gt loh! dia suka banget sama musik!

hah..., dulu juga pernah ada kejadian kayak gini
tapi sama guru bio gw
gw bener2 pengen narik dia pulang ke rumah gw, gw sekep buat dijadiin guru pribadi gw
posesif...
gw baru nyadar akan hal itu sekarang (hahaha)


jadi...
GIMANA DUNK???

udah ah, gw mau ngarang cerita gw tadi

Sabtu, 14 November 2009

tiga hal

hal pertama: UN majuuuu

terkutuklah para pemerintah yang seenaknya nentuin hari

hal kedua: teringat koko cipit....
huaaaaa gw jadi mo ke FKUI liat2 trus nyari2 koko cipit.....
trus mo liat2 UI salemba....

hal ketiga: makin pengen dan ga pengen ke IPB
ga pengen: takut rasisnya sama kecewa sama mereka hari ini (er..., gpp juga sih, asal ketemu temen sama dosennya enak)trus aernya jelek dan lingkungannya rada terpencil
pengen: lingkungannya enakkkk, ijo2 gt
puun dimana2, kerennnn, gw da kebayang bakal bawa sepeda ungu gw ke sono
trus uda kebayang hari minggu sepedaan di sono
huhuhuhuhu.....

yah..., kalo mo ditotal...
niat gw masuk sono blom ilang
hahahahahahahahahaha

Minggu, 25 Oktober 2009

cewe ato cowo

Ini beneran!
Entah mengapa setiap kali gw ngeliat cewe2 gw merasa diri gw bukan seorang cewe!

Astaga-astaga...
Tiap kali gw melihat seorang cewe, gw meresa sangat kurang dari mereka.
Kebanyakan dari mereka punya pikiran yang polos.
Kayak menganggap semua yang ada di dunia ini baik adanya.
Mereka juga kayaknya tulus..., banget.
Feminin.
Manis.
Lembut.
Rajin, rapih.
Mikirin penampilan (banget)

Bener-bener cewe.
Kalo lagi nyebelin juga cewe banget.
Ngomel, ngambek, trus juga gak kasar.

Sedangkan gw?
Gw terlalu judes.
Terlalu kasar.
Kalo ngomong ga make mikir.
Make sih, tapi pikiran gw dipake untuk: gimana caranya agar gw bisa ngomong semenyakitkan mungkin, sejudes mungkin.
Gw jg terlalu curigaan.
Dan ga berperasaan.
Nangis buat hal yang ngga cewe banget.

Jadi....
Kayaknya gw sama sekali bukan cewe tulen

Selasa, 29 September 2009

hancur....

yang dilakukan hari ini dan kemaren:
kemaren:
siang: telat makan, jem 6 bru selese makan siang
malem: makan jem 9-an, jam 10 masih makan sayur
tidur jem setenga 11

hari ini:
malem: kebangun jem 12 lewat
trus kebangun lagi jem 1-an
subuh: bangun jem 3.45-an
jam 4-an kelaparan, makan coklat tobleron yang dibuka sejak agustus sama nori yang uda rada lembek


laporan jem 8-an: diare.... TT_TT

INI KENAPA BANGET COBA?!

jem 8-setenga sembilan: minum norit 6 biji (telen tuh norit! =3=)
setenga sepuluhan: sakit perut ilang, mendingan

siang: boker2 lagi

sore: mendingan lagi (uda lupa pernah sakit)

malem: abis makan malem, grucuk2, sakit lagi, boker 2 kali

AHHHHHH!!!!!!!!!!! (teriak prustasi)

sepertinya perut gw sendiri ga bisa dipercaya T_T

Rabu, 16 September 2009

Masa Lalu

Masa lalu
Seorang gadis mungil duduk di ambang pintu. Gaunnya putih bersih. Rambutnya lurus lembut bagai satin hitam. Setiap hari, gadis itu duduk di sana. Menatap langit sambil menyenandungkan lagu sedih. Sebuah lagu dengan kata-kata yang hanya dimengerti olehnya. Terkadang, kau dapat melihat matanya menerawang.

Hari ke hari, langit melihatnya. Langit penasaran.
"Hai, gadis mungil, apa yang kau lakukan di situ?" tanya langit.

"Aku menunggu," jawab gadis itu sambil tersenyum. Mata itu masih tetap menerawang.

"Menunggu?" balas langit, "Menunggu apa?"

"Hujan...,"

Dan gadis itu kembali ke dalam pikirannya. Memikirkan sesuatu yang tidak diketahui siapapun.

Hari ke hari, langit masih melihatnya.
Menunggu. Ya, pasti gadis itu menunggu hujan, pikir langit.
Jadi, langit memeras awan-awannya dan menurunkan hujan.

Rintik-rintik kecil pun jatuh ke bumi. Menyapa gadis mungil yang menunggu.
Menyadari hal itu, mata gadis mungil kembali ke saat kini. Kaki-kakinya mulai berlarian, kedua tangannya terbuka ke atas. Menyambut hujan.
Ia menari, berlarian, tertawa di tengah hujan. Seakan-akan kehidupan kembali kepadanya. Penuh energi dan vitalitas.

Langit yang melihat itu tersenyum. Geli melhat tingkah gadis mungil.
Ia berkata, "Sudah, sudah, jangan terlalu lama bermain dengan hujan. Nanti kau jatuh sakit."

"Hm...? Tapi ini hujan pertama sejak aku menunggu. Aku ingin berada di sini lebih lama lagi...," gadis mungil menengadah ke atas. Rautnya merengut tidak setuju.

"Nanti akan ku bawakan kau hujan yang lain. Sekarang kau harus masuk!" langit memperingatkan dengan senyum tersungging di bibirnya.

"Benar, ya?"

"Ya."

Dengan janji itu, sang gadis masuk ke dalam rumahnya. Hilang dari pandangan langit.

Menyadari gadis mungil telah hilang untuk sementara waktu, mau tidak mau langit kecewa. Jika hujan tidak datang, mungkin gadis itu masih berada dalam pandangannya, masih menunggu. Tetapi, langit tidak kuasa untuk tidak menurunkan hujan. Ia tidak ingin gadis itu menunggu...

Keesokan harinya, gadis itu kembali menunggu.
Kali ini ia menunggu, lalu menuntut.

"Mana hujan yang kau janjikan?"

"Nanti. Aku tidak bisa mengeluarkan hujan saat ini. Awan-awanku kering."

"Lalu, kapan aku bisa melihat hujan?"

"Jika aku sudah mendapatkan banyak air dari bumi, baru aku bisa menurunkan hujan."

"Air dari bumi? Apa bumi memberimu minum?"

"Bisa dikatakan demikian. Bumi mengirimkan air-air padaku lewat angin."

Dari sana, pertemanan antara gadis mungil dan langit dimulai.
Mereka saling bertukar cerita.
Langit menceritakan tentang teman-temannya.
Gadis mungil tentang kehidupannya.

Sesekali, untuk menyenangkan hati sang gadis, langit memberikan hujan yang menjalin hubungan diantara mereka. Dan, setiap saat langit melakukan hal itu, gadis mungil akan berlari keluar dari ambang pintu. Menari menyambut hujan.

Berbulan-bulan mereka melakukan hal itu.
Sang gadis untuk hujan yang dinantikannya.
Dan bagi langit agar dapat melihat gadis mungil.

Sampai suatu hari, langit menanyakan sebuah pertanyaan yang selama ini mengusiknya.

"Hei, mengapa kamu sangat ingin melihat hujan?"

"Melihat?"

"Ya, kau berkata kau menunggu di sana untuk hujan."

"Ah..., aku memang menunggu hujan... Tetapi bukan untuk melihat..." kata-kata gadis itu terputus. Jarang-jarang hal itu terjadi. Langit pun makin penasaran.

"Lalu, untuk apa?"

"Aku ingin merasakan. Setiap tetesan hujan. Setiap airnya yang jatuh di kulitku, suara rintik yang masuk ke telingaku, bau tanah yang menyapu hidungku. Semuanya itu mendatangkan kembali ingatan tentang kekasihku." gadis itu tersenyum.

"Kekasih?"

"Ya, kekasih."

Dan pembicaraan pun terhenti begitu gadis mungil kembali masuk ke dalam alam pikirannya sendiri.

Langit mendengar hal itu.
Dan langit merasakannya.
Sebentuk sakit yang muncul entah di mana.
Mengoyak-ngoyak dirinya dari dalam.
Layaknya petir mengusik awan-awan.

Hari itu hujan turun lebih deras dari biasanya.
Gadis mungil tahu itu.
Ada sesuatu yang berbeda pada hujan kali ini.
Hujan itu deras, menusuk-nusuk kulitnya. Dan mengandung sebuah kesedihan.
Seluruh kebahagiannya akan hujan tiba-tiba tersusupi oleh sebentuk kesedihan. Menguatkan kenangan-kenangan kabur yang ingin dikubur oleh gadis kecil.

Kekasihnya.
Kekasih yang meninggalkannya.
Kekasih yang hatinya menetap pada gadis mungil, tetapi kakinya tetap berjalan mencari dunia. Mencari hutan dan gunung. Haus akan rasa dunia.

Ya, hari itu hujan juga turun dengan derasnya.
Menusuk hati dan otak gadis mungil.
Meninggalkan pening yang dibawanya hingga tidur malam.

Perlahan, bulir-bulir air mata mengalir keluar dari mata cokelatnya. Tidak kentara dengan hujan yang memukul-mukul pipi.
Gadis mungil menangis.
Untuk apa?
Untuk kenangan buruk yang kembali timbul itukah?

Gelengan kecil otomatis dilakukannya.
Tidak. Ia tahu itu.
Ini bukan mengenai kekasihnya.
Ini mengenai langit, yang entah bagaimana dirasakannya sedang bersedih.
Ini mengenai langit, yang tiba-tiba terasa begitu jauh. Begitu sulit dijangkau.
Langit yang ketidakhadirannya menginggalkan lubang di hati gadis mungil.

Tersentak, gadis itu ketakutan.
Ia berteriak memanggil langit.
Berputar-putar dalam hujan mencari pribadi yang tertutup awan kelam itu.
Takut langit meninggalkannya.
Takut seseorang lain yang dicintainya juga pergi dari kehidupannya.

Tetapi langit telah pergi.
Ia menutup dirinya rapat-rapat dalam awan, matahari, bulan, dan bintang.
Tidak menoleh kepada gadis mungil.
Tidak ingin merasa keinginan memiliki pada hal yang tak bisa diraihnya.

***

Sore itu secercah warna oranye menghiasi keheningan langit.
Gadis mungil itu masih di sana, di ambang pintu dengan gaun putihnya.
Tetapi, jika ada yang menanyakan apa yang ditunggunya, ia akan menjawab:
“Aku menunggu langit menyapaku.”

pertanyaan pertanyaan

  • Mana yang lebih baik: hidup bersenang-senang tapi kau buta dan tidak tahu apa-apa, bahkan tidak peduli akan dunia, atau sangat mengerti akan kehidupan, tetapi karena hal itu kau tidak dapat hidup bersenang-senang?
  • Apakah arti hidup, apa tujuan hidup ini?
  • Siapa yang salah dalam sebuah kejahatan: pelaku, korban, atau penonton?
  • Apakah Tuhan benar-benar ada, di manakah surga?